Fokus Rembang | Di tengah perayaan peluncuran program Sekolah Rakyat, ada suara-suara yang nyaris tak terdengar. Suara itu datang dari ruang-ruang kelas madrasah, dari bangunan sederhana yang masih bertahan dengan segala keterbatasannya, dan dari para guru yang setiap hari mengajar dengan dedikasi yang tak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan yang mereka terima.
Sebagai pendidik, saya tentu menyambut baik setiap ikhtiar negara untuk memperluas akses pendidikan. Namun sebagai kepala madrasah yang saban hari bergulat dengan persoalan dasar mulai dari fasilitas yang terbatas hingga kebutuhan operasional yang terus meningkat, saya tidak bisa menepis pertanyaan yang terus mengganggu pikiran: mengapa pemerintah begitu bersemangat membangun institusi baru, sementara lembaga pendidikan yang telah lama berdiri justru masih berjuang mempertahankan keberadaannya?
Pertanyaan itu bukan lahir dari sikap menolak perubahan. Sebaliknya, ia muncul dari kegelisahan melihat arah kebijakan yang seolah lebih tertarik menciptakan sesuatu yang baru daripada memperkuat yang telah ada.
Fenomena ini tampak jelas dalam tata kelola pendidikan nasional. Hampir setiap kementerian merasa perlu memiliki program pendidikan atau sekolah binaan sendiri. Akibatnya, lahir beragam program yang berjalan dalam jalur masing-masing. Alih-alih terintegrasi melalui Kementerian Pendidikan atau Kementerian Agama, pendidikan justru berpotensi terseret ke dalam fragmentasi kebijakan yang mahal dan berulang.
Pembangunan sekolah baru tentu membutuhkan biaya besar. Negara harus menyediakan lahan, membangun gedung, merekrut tenaga pengelola, hingga menanggung biaya operasional yang akan terus berjalan setiap tahun. Semua itu memerlukan anggaran yang tidak sedikit.
Di saat yang sama, ribuan madrasah swasta masih berkutat dengan persoalan mendasar. Banyak yang kesulitan memperbaiki ruang kelas, memenuhi kebutuhan sarana pembelajaran, atau meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi ketika negara sedang menggaungkan efisiensi anggaran.
Di lapangan, kebutuhan kami sesungguhnya sederhana. Kami tidak meminta dibangunkan lembaga baru untuk menyaingi yang sudah ada. Kami hanya berharap negara hadir untuk memperkuat fondasi yang selama ini telah bekerja dan tumbuh bersama masyarakat.
Madrasah bukan institusi yang baru muncul kemarin sore. Lembaga ini telah menjadi bagian dari sejarah pendidikan bangsa. Dari desa-desa terpencil hingga kawasan perkotaan, madrasah berkontribusi mendidik generasi muda sekaligus menanamkan nilai-nilai moral dan akhlakul karimah.
Namun realitas yang kami hadapi masih jauh dari ideal.
Akses terhadap bantuan sarana dan prasarana sering kali terbentur birokrasi yang panjang dan keterbatasan kuota. Banyak guru honorer tetap mengajar dengan penghasilan yang jauh dari layak. Sementara itu, ketika digitalisasi pendidikan menjadi agenda nasional, tidak sedikit madrasah yang masih berjuang menghadapi keterbatasan perangkat dan akses internet.
Karena itu, sulit untuk tidak bertanya: bukankah dampaknya akan jauh lebih besar jika sebagian anggaran pembangunan sekolah baru dialokasikan untuk memperkuat lembaga pendidikan yang telah ada?
Dengan langkah seperti itu, pemerintah tidak perlu memulai dari titik nol. Infrastruktur dasar sudah tersedia. Sistem pembelajaran telah berjalan. Kepercayaan masyarakat pun sudah terbentuk. Yang dibutuhkan hanyalah keberpihakan kebijakan dan dukungan yang lebih nyata.
Pendidikan semestinya tidak menjadi arena pencitraan kelembagaan. Ia harus ditempatkan sebagai instrumen keadilan sosial yang menjangkau seluruh warga negara tanpa membedakan jenis sekolah maupun latar belakang pengelolanya.
Karena itu, sudah saatnya pemerintah menengok kembali lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini berdiri di garis depan. Madrasah bukan pelengkap dalam sistem pendidikan nasional. Madrasah adalah bagian dari fondasi yang menopang karakter bangsa.
Perbaiki fasilitas kami. Perkuat dukungan operasional kami. Sejahterakan guru-guru kami.
Jangan sampai murid-murid di madrasah hanya bisa memandang megahnya gedung-gedung sekolah baru yang dibangun negara, sementara mereka tetap belajar di bawah atap yang lapuk. Sebab pada akhirnya mereka akan bertanya, dengan polos namun mengusik nurani: apakah kami bukan bagian dari rakyat yang sedang disekolahkan itu?
Selama ini, madrasah dipandang sebagai lembaga pendidikan yang kurang penting dibandingkan dengan sekolah umum. Namun, hal ini tidak benar. Madrasah memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan bangsa.
Dalam beberapa tahun terakhir, madrasah telah mengalami peningkatan jumlah murid dan guru. Namun, masih banyak madrasah yang menghadapi kesulitan dalam mencari sumber daya yang cukup untuk membiayai operasionalnya.
Hal ini membuat madrasah harus berjuang untuk tetap bertahan. Mereka harus mencari sumber daya dari berbagai tempat, termasuk dari masyarakat sekitar.
Walaupun begitu, madrasah tetap menjadi salah satu lembaga pendidikan yang paling penting di Indonesia. Mereka telah berkontribusi besar dalam pendidikan bangsa dan akan terus berkontribusi dalam masa-masa mendatang.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

