Fokus Rembang | Pemkab Pati kembali melaksanakan program bantuan Stimulan Puso tahap II, yang kali ini menyalurkan dana sebesar Rp15 miliar kepada ribuan petani di wilayahnya. Program ini merupakan lanjutan dari bantuan pertama yang bertujuan mengurangi beban produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani kecil.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penyaluran dana dilakukan secara bertahap mulai awal pekan ini, dengan melibatkan dinas pertanian, kantor desa, serta kelompok tani setempat. Setiap kelompok menerima alokasi dana yang disesuaikan dengan jumlah anggota dan luas lahan yang dikelola. Secara keseluruhan, lebih dari 12.000 petani di Kabupaten Pati mendapatkan manfaat langsung dari Stimulan Puso II.

Berikut rincian alokasi dana Stimulan Puso II:

  • Rp5 miliar untuk penyediaan bibit padi dan jagung varietas unggul.
  • Rp4 miliar dialokasikan untuk pembelian pupuk organik serta pelatihan pemanfaatannya.
  • Rp3 miliar ditujukan untuk perbaikan jaringan irigasi, termasuk perbaikan saluran dan pemasangan pompa air tenaga surya.
  • Rp2 miliar sisanya digunakan untuk subsidi listrik bagi rumah tangga petani serta program pendampingan teknis.

Program ini juga diharapkan dapat menstimulasi ekonomi lokal. Dengan meningkatnya produksi pertanian, pasar tradisional dan pengecer di wilayah Pati diproyeksikan akan mengalami peningkatan volume penjualan. Selain itu, para petani yang menerima bantuan diharapkan dapat menambah pendapatan keluarga, sehingga daya beli masyarakat setempat juga akan naik.

Pendekatan partisipatif menjadi kunci utama dalam pelaksanaan Stimulan Puso II. Setiap kelompok tani diminta untuk menyusun rencana kerja tahunan yang mencakup target produksi, strategi pemasaran, dan mekanisme pelaporan penggunaan dana. Tim teknis dari Dinas Pertanian akan memantau pelaksanaan rencana tersebut secara berkala, memastikan bahwa dana tepat sasaran dan tidak terjadi penyalahgunaan.

Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis pertanian menyambut baik inisiatif Pemkab Pati. “Ini langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga pasar,” ujar Ketua Kelembagaan Petani Pati, Siti Nurhaliza.

Namun, tidak menutup kemungkinan muncul tantangan dalam implementasi program. Beberapa petani mengungkapkan kekhawatiran terkait prosedur administratif yang masih dianggap rumit, serta keterbatasan akses informasi di desa‑desa terpencil. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Pertanian berencana mengadakan sosialisasi tambahan dan menyediakan layanan bantuan teknis melalui pusat layanan pertanian di tiap kecamatan.

Dengan total nilai bantuan mencapai Rp15 miliar, Stimulan Puso II menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Pati dalam mendukung sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi regional. Diharapkan, melalui program ini, petani tidak hanya mendapatkan bantuan finansial, tetapi juga pengetahuan dan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Ke depan, Pemkab Pati berencana melanjutkan program serupa pada tahun berikutnya, dengan evaluasi hasil Stimulan Puso I dan II sebagai dasar perencanaan. Fokus utama akan tetap pada peningkatan kualitas hasil pertanian, pengurangan biaya produksi, serta penguatan jaringan pemasaran lokal.

Dengan dukungan dana, pelatihan, dan infrastruktur yang memadai, petani Pati diharapkan dapat menatap masa depan yang lebih stabil dan sejahtera, sekaligus berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.