Fokus Rembang | Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tabalong kembali menggelar inisiatif budaya dengan menyelenggarakan Lomba Foto Tempo Doeloe. Kompetisi ini terbuka untuk publik umum dan bertujuan menggali sekaligus mengarsipkan jejak visual masa lalu Tabalong. Dengan mengajak warga mengirimkan koleksi foto lama, Dispersip berharap dapat memperkaya basis data visual yang menjadi referensi sejarah bagi generasi mendatang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Acara yang berlangsung pada akhir pekan tanggal 26 April 2026 di kantor Dispersip menerima ratusan entri foto, mulai dari potret kegiatan sosial, infrastruktur, hingga momen politik penting. Salah satu foto yang memperoleh penghargaan utama menampilkan kunjungan Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara ke Tabalong pada tahun 1993. Dalam potret tersebut, sang Menteri tampak berdampingan dengan Gubernur Kalimantan Selatan Muhammad Said serta Bupati Tabalong pada masa itu, Dandung Suchrowardi.

Kepala Dispersip Tabalong, Nurhayati, menjelaskan bahwa latar belakang diadakannya Lomba Foto Tempo Doeloe adalah masih tingginya kesenjangan pengetahuan masyarakat tentang kondisi Tabalong tempo dulu. “Banyak warga yang belum memiliki gambaran jelas tentang bagaimana kehidupan, arsitektur, dan dinamika sosial di masa lampau. Kompetisi ini menjadi jembatan untuk mengungkap kembali potongan‑potongan sejarah yang mungkin telah lama terkubur,” ujarnya dalam wawancara.

Foto‑foto yang masuk tidak hanya diperlakukan sebagai bahan kompetisi semata. Setiap karya yang terpilih akan diintegrasikan ke dalam arsip visual resmi Dispersip, di mana proses digitalisasi dan katalogisasi dilakukan secara cermat. Arsip tersebut nantinya dapat diakses oleh peneliti, pelajar, serta publik yang membutuhkan data visual sejarah. Menurut Nurhayati, arsip visual berfungsi sebagai sumber autentik yang dapat melengkapi catatan tertulis, sehingga memperkaya narasi historis daerah.

  • Tujuan utama: Mengumpulkan dokumentasi visual yang menggambarkan Tabolong dari era kolonial hingga masa reformasi.
  • Manfaat bagi masyarakat: Menumbuhkan rasa bangga dan kepemilikan atas warisan budaya lokal.
  • Manfaat bagi akademisi: Menyediakan bahan penelitian yang dapat diverifikasi secara visual.
  • Langkah selanjutnya: Pengembangan pameran foto sejarah di ruang publik dan penyusunan publikasi khusus.

Partisipasi aktif warga menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pelestarian memori kolektif. Banyak peserta mengirimkan foto-foto lama keluarga, gambar kegiatan pasar tradisional, hingga dokumentasi pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan jalan raya yang kini menjadi saksi bisu perubahan wilayah. Beberapa foto bahkan menampilkan kegiatan keagamaan yang melibatkan tokoh‑tokoh lokal, menambah dimensi sosial‑kultural dalam koleksi arsip.

Selain penghargaan utama, Lomba Foto Tempo Doeloe juga memberikan penghargaan khusus untuk kategori foto terbaik dari tiap desa, serta penghargaan apresiasi untuk foto dengan nilai estetika tertinggi. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam sebuah upacara resmi yang dihadiri pejabat daerah, perwakilan lembaga kebudayaan, dan media lokal. Upacara tersebut sekaligus menjadi ajang edukasi, di mana Nurhayati menyampaikan pentingnya menjaga, melestarikan, dan mempublikasikan foto-foto lama sebagai bagian integral dari identitas Tabalong.

Dengan mengintegrasikan foto-foto tersebut ke dalam sistem arsip digital, Dispersip berharap dapat mengurangi risiko kehilangan data akibat kerusakan fisik atau bencana alam. Proses digitalisasi mencakup pemindaian resolusi tinggi, penambahan metadata yang mencakup tanggal, lokasi, serta keterangan subjek, sehingga pencarian dan pengelolaan data menjadi lebih efisien. Keberhasilan inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengoptimalkan teknologi untuk pelestarian sejarah.

Secara keseluruhan, Lomba Foto Tempo Doeloe tidak hanya sekadar kompetisi, melainkan sebuah gerakan kolektif untuk menyalakan kembali cahaya masa lalu Tabalong. Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi, arsip visual ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pendidikan sejarah, pariwisata budaya, serta penguatan identitas regional. Dengan demikian, setiap generasi dapat menelusuri jejak langkah nenek moyang mereka, memahami dinamika perubahan, dan mengapresiasi warisan yang telah dibangun dengan kerja keras bersama.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.