Elang Mahardika Putra
Aku masih ingat bagaimana Elang menutup laptop kantornya di Bandung dengan satu gerakan tegas, lalu berlari ke dapur kecilnya sambil menyiapkan sambal yang menggelegar. Awal 2020, ia meluncur ke dunia menulis, menumpahkan energi yang dulu terkurung di rapat‑rapat ke kolom‑kolom tulisan, menyulap pengamat politik lokal menjadi narator yang tak pernah lepas dari aroma cabai. Sekarang, di antara hiruk‑pikuk kota, ia menulis sambil menunggu nasi gorengnya matang, membuktikan tinta dan cabai bisa menjadi sahabat sejati.