Fokus Rembang | Bandung, 06 Juni 2026 – Sungai Citarum di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), telah kehilangan kehidupannya. Permukaan sungai legendaris itu tertutup rapat oleh hamparan jutaan tanaman eceng gondok yang tumbuh subur bak karpet hijau tanpa ujung.
Sejauh mata memandang, gulma air yang menjadi indikator memburuknya kualitas lingkungan itu mengunci rapat aliran sungai. Tak ada lagi celah bagi perahu nelayan untuk membelah air. Restoran-restoran terapung yang biasanya hidup dari menjual syahdunya pemandangan sungai pun kini mati suri, tak punya apa-apa lagi untuk disuguhkan kepada para pelancong.
Orang-orang yang menggantungkan napas hidupnya pada aliran Citarum kini hanya bisa merawat asa, menanti arus membawa pulau gulma itu ke hilir agar jala dan kail pancing bisa kembali ditebar. Awang Widiati, salah seorang warga setempat yang memiliki restoran di dekat Jembatan Ciminyak, menjadi saksi bisu bagaimana sungai itu perlahan kehilangan kehidupannya.
Matinya aktivitas di atas sungai berdampak langsung pada roda ekonomi warga. Sudah beberapa pekan terakhir, Awang terpaksa menyuplai kebutuhan ikan untuk restorannya dari luar daerah. Pasokan ikan dari nelayan dan petambak lokal lumpuh total akibat ekspansi eceng gondok yang tak terkendali.
Di sisi lain, trotoar Cicadas kembali bernapas. Papan-papan nama toko tua yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik deretan kios pedagang kaki lima (PKL), spanduk, dan kanopi, kembali muncul menatap jalanan. Catnya telah pudar, beberapa huruf mengelupas dimakan usia. Namun justru di sanalah letak pesonanya.
Setiap guratan kuas yang masih tersisa sedang berusaha menceritakan sesuatu kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan memperhatikannya. Papan-papan nama toko di Cicadas bukan hasil cetak digital. Bukan pula stiker vinil yang bisa dibuat dalam hitungan jam. Inilah hasil karya sign painting, atau yang oleh orang-orang sekarang disebut sebagai vintage sign painting.
Bagi sebagian orang, papan-papan nama itu mungkin hanyalah cat tua yang mulai kusam dimakan usia. Namun bagi mereka yang pernah tumbuh di Bandung pada era 1980-an dan 1990-an, setiap huruf menyimpan kenangan. Nama-nama toko yang terpampang bukan sekadar penanda usaha, melainkan penanda kehidupan.
Saya berdiri di trotoar, mengamati papan-papan nama toko lama itu. Lalu tanpa disadari, ingatan melangkah lebih jauh daripada kaki. Saya merasa kembali menjadi anak SMP berseragam putih-biru.
Kesimpulan: Sungai Citarum kehilangan kehidupannya, tetapi trotoar Cicadas kembali bernapas. Papan-papan nama toko tua yang telah tersembunyi kembali muncul menatap jalanan, menyimpan kenangan bagi mereka yang pernah tumbuh di Bandung pada era 1980-an dan 1990-an.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

