Fokus Rembang | Pertamina resmi menaikkan tarif Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg per 18 April 2026, menandai lonjakan signifikan pada LPG non-subsidi yang memengaruhi rumah tangga serta pelaku usaha kecil dan menengah. Kenaikan ini muncul bersamaan dengan ketidakpastian ekonomi global, sehingga konsumen harus menyesuaikan anggaran dapur mereka.
Berikut adalah rincian harga LPG non-subsidi yang berlaku setelah penyesuaian:
| Produk | Isi Ulang | Tabung + Isi |
|---|---|---|
| Bright Gas 12 Kg | ± Rp248.000 | ± Rp762.000 |
| Bright Gas 5,5 Kg | ± Rp127.000 | ± Rp410.000 |
Harga dapat berfluktuasi antar wilayah karena faktor distribusi, jarak pengiriman, dan biaya logistik lokal.
Beberapa penyebab utama kenaikan harga meliputi:
- Lonjakan harga energi global: Harga minyak dan gas dunia meningkat tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang memperkecil pasokan LPG impor.
- Rupiah melemah terhadap dolar AS: Ketergantungan impor LPG membuat biaya pembelian naik ketika nilai tukar rupiah turun.
- Mekanisme pasar bebas: LPG non-subsidi tidak diatur pemerintah secara langsung, sehingga mengikuti dinamika pasar internasional.
Dampak kenaikan tarif terasa langsung pada berbagai sektor. Rumah tangga harus menanggung biaya memasak yang lebih tinggi, sementara warung makan dan restoran berpotensi menaikkan harga menu. UMKM terutama yang mengandalkan gas untuk proses produksi mengalami penurunan margin keuntungan, memaksa sebagian pelaku usaha mengurangi produksi atau menyesuaikan harga jual.
Sementara itu, pemerintah tetap menjaga kestabilan harga LPG subsidi 3 kg, yang masih mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET). Kebijakan ini ditujukan untuk melindungi kelompok masyarakat kurang mampu, namun pemerintah menegaskan bahwa penggunaan subsidi harus tepat sasaran agar tidak mengganggu distribusi.
Untuk membantu konsumen mengurangi beban, berikut beberapa strategi hemat gas yang dapat diterapkan secara praktis:
- Gunakan api sekecil mungkin; api besar tidak selalu mempercepat proses memasak.
- Tutup panci saat memasak untuk mempercepat panas dan mengurangi konsumsi gas.
- Investasi pada kompor dan regulator berkualitas tinggi yang meningkatkan efisiensi pembakaran.
- Masak dalam jumlah besar untuk beberapa menu sekaligus, sehingga frekuensi penggunaan gas berkurang.
Prediksi ke depan menunjukkan bahwa jika harga energi global tetap tinggi, LPG non-subsidi masih berpotensi naik. Namun, perbaikan situasi geopolitik atau stabilisasi nilai tukar rupiah dapat menurunkan tekanan pada harga domestik.
Dengan memahami penyebab kenaikan dan menerapkan langkah-langkah penghematan, konsumen dapat mengurangi dampak finansial sekaligus tetap menjaga kebutuhan energi rumah tangga. Pemerintah di sisi lain diharapkan terus memantau pasar untuk menghindari lonjakan yang berlebihan dan melindungi daya beli masyarakat.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

