Fokus Rembang | WONOSOBO – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan pentingnya sikap kritis dalam mengonsumsi berita dan data di era digital. Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan kepada media lokal, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih jeli membaca dan memahami setiap informasi yang beredar, khususnya guna mengurangi penyebaran hoaks dan disinformasi.
Gubernur menambahkan bahwa hoaks tidak hanya sekadar menimbulkan kebingungan, tetapi juga berpotensi memecah belah persatuan serta menghambat proses pembangunan. “Jika masyarakat mudah termakan disinformasi, maka dampaknya akan terasa pada tingkat sosial, ekonomi, bahkan politik,” tegas Luthfi. Oleh karena itu, ia menekankan peran aktif setiap individu dalam menilai kebenaran suatu informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut.
Untuk mewujudkan budaya literasi digital yang kuat, pemerintah provinsi Jawa Tengah berencana meluncurkan serangkaian program edukatif. Program tersebut akan mencakup pelatihan literasi media di sekolah-sekolah, workshop bagi komunitas pemuda, serta kampanye publik melalui media massa dan platform daring. Salah satu inisiatif yang diusulkan adalah pembuatan portal verifikasi fakta yang mudah diakses oleh warga, yang akan bekerja sama dengan lembaga pemeriksa fakta independen.
Selain itu, Luthfi mengajak pihak swasta, lembaga keagamaan, dan tokoh masyarakat untuk berkolaborasi dalam memerangi hoaks. Ia menilai bahwa sinergi lintas sektor akan memperkuat mekanisme deteksi dini serta respons cepat terhadap penyebaran berita palsu. “Kita butuh jaringan yang solid, mulai dari pemerintah, media, hingga komunitas digital, untuk melindungi warga dari bahaya hoaks,” kata Gubernur.
Langkah konkret lainnya meliputi peningkatan kapasitas aparat penegak hukum dalam menangani kasus penyebaran disinformasi. Gubernur mengingatkan bahwa penyebaran hoaks yang bersifat merusak dapat dijerat dengan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia berharap kebijakan ini dapat menimbulkan efek jera dan mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati.
Para pakar media menilai inisiatif Luthfi sangat relevan dengan dinamika informasi saat ini. Dr. Siti Nurhaliza, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa literasi media bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga melibatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. “Kita perlu menumbuhkan rasa skeptis yang sehat, bukan sekadar menolak semua informasi,” ujarnya.
Di sisi lain, sejumlah organisasi non‑pemerintah yang fokus pada keamanan siber menyambut baik ajakan Gubernur. Mereka menekankan pentingnya edukasi tentang cara memeriksa sumber, tanggal publikasi, serta keabsahan gambar atau video yang beredar. “Teknologi AI kini memungkinkan pembuatan deepfake yang semakin meyakinkan, sehingga masyarakat harus dilengkapi dengan alat dan pengetahuan untuk memverifikasi konten,” kata perwakilan salah satu LSM.
Gubernur Luthfi menutup pernyataannya dengan harapan bahwa upaya bersama ini dapat membangun ketahanan informasi di Jawa Tengah. Ia mengajak semua pihak untuk menjadi garda terdepan dalam mencegah hoaks, demi menjaga persatuan, keamanan, dan kelancaran proses pembangunan di provinsi yang kaya akan potensi ini.
Dengan langkah-langkah konkret dan kolaboratif, diharapkan warga Jawa Tengah dapat menjadi konsumen informasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Upaya ini tidak hanya melindungi individu, tetapi juga memperkuat fondasi sosial yang diperlukan untuk mencapai visi pembangunan berkelanjutan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

