Fokus Rembang | Karangasem, Bali – Hari Suci Galungan telah tiba, dan umat Hindu di Bali menikmati momen ini dengan penuh sukacita melalui persembahyangan di berbagai pura desa. Namun, di balik kemeriahan umum tersebut, ada sebuah tradisi unik yang dipraktikkan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Desa ini merupakan salah satu desa Bali Aga atau desa purba di Bali yang memiliki cara tersendiri dalam memaknai hari kemenangan ini.
Persembahyangan di Tenganan Pegringsingan berbeda dengan umat Hindu lainnya. Mereka tidak melaksanakan ritual keliling ke sejumlah pura di desa mereka seperti yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali pada umumnya. Sebaliknya, perwakilan warga yang ditunjuk secara khusus melakukan persembahyangan dengan mempersembahkan tiga sesajen utama yang dikenal dengan nama Banten Uduan. Tidak seperti umat Hindu lainnya, warga Tenganan Pegringsingan tidak memasang penjor di depan kediaman mereka.
Banten Uduan merupakan sarana upakara yang memiliki struktur yang spesifik dan megah. Enam tumpeng besar, jajanan tradisional, buah hasil bumi, dan tiga dulang besar adalah komponen utama dari Banten Uduan. Setelah siap, prajuru desa adat mengantarkan sesajen tersebut ke tiga tempat suci utama sesuai dengan kedudukan ritualnya, yaitu Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Ulun Swarga.
Perbedaan lain yang mencolok adalah detail prosesi penyembelihan dan makna simbolis. Prajuru Desa Adat Tenganan Pegringsingan menegaskan bahwa desa mereka tetap menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Hari Raya Galungan. Hanya saja, garis pelaksanaannya memang diwariskan secara berbeda. Bentuk sesajen yang khas dan ketiadaan penjor di desa ini merupakan simbol murni atas kebesaran serta keagungan alam semesta.
Desa Bali Aga yang penuh sejarah ini memiliki tatanan ritual tersendiri. Mereka memegang teguh hari raya besar mereka sendiri yang berskala utama, yaitu Ngusaba Samba. Upacara besar Ngusaba Samba ini diselenggarakan secara berkala setiap satu tahun sekali dan menjadi pusat dari seluruh rangkaian ritual sakral masyarakat Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Di akhirnya, keunikan tradisi Galungan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu contoh yang menunjukkan bahwa setiap desa di Bali memiliki cara tersendiri dalam memaknai hari kemenangan ini. Semoga keunikan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Bali untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi unik yang dimiliki.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

