Fokus Rembang | Hari Raya Galungan di Bali seringkali identik dengan semarak penjor yang menjulang tinggi di sepanjang jalanan. Namun, jika kita masuk lebih dalam ke desa-desa adat, Galungan ternyata memiliki wajah yang sangat beragam. Berbagai wilayah di Bali merayakan hari suci ini dengan tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun, jauh dari ingar-bingar pariwisata masal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam kesempatan ini, kita akan menelusuri beberapa tradisi unik Galungan di Bali. Pertama-tama, kita akan mengunjungi Desa Tenganan Pegeringsingan, Kabupaten Karangasem. Desa ini memiliki aturan adat atau awig-awig yang melarang pemasangan penjor fisik saat Galungan.

Masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan merayakan kemenangan dharma melalui kesederhanaan yang mendalam. Mereka sama sekali tidak menggunakan penjor, janur, maupun bantenan (sesajen) khusus Galungan seperti masyarakat Bali pada umumnya. Nilai spiritual mereka berfokus pada kemurnian ritual kuno yang sudah terjaga sejak berabad-abad lalu.

Berikutnya, kita akan mengunjungi Desa Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Warga di desa ini sengaja tidak mendirikan penjor di depan rumah mereka karena meyakini keberadaan penjor niskala (secara spiritual). Leluhur mereka mewariskan keyakinan bahwa desa tersebut sudah dilindungi oleh penjor mesampian emas yang kasatmata namun bernilai sakral tinggi.

Berikutnya, kita akan mengunjungi Kabupaten Tabanan, tepatnya di Desa Adat Samsam, Kecamatan Kerambitan. Warga setempat memiliki ritual khusus bernama tradisi ngelinting. Prosesi ini berlangsung pada hari Penampahan Galungan, yaitu sehari sebelum puncak hari raya.

Warga Desa Adat Samsam menyalakan linting sebagai lambang pembersihan spiritual. Secara filosofis, membakar linting menjadi media untuk memohon penerangan, baik untuk bhuana agung (alam semesta) maupun bhuana alit (diri manusia sendiri) menjelang datangnya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tujuan utamanya adalah agar seluruh umat mendapatkan galang apadang atau pancaran sinar terang dalam kehidupan.

Tradisi unik lainnya yang tidak kalah memikat adalah Mekotek, sebuah warisan budaya yang terus dilestarikan oleh umat Hindu di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini melibatkan partisipasi aktif dari ratusan warga, khususnya kaum pria di desa setempat.

Mekotek adalah sebuah formasi kayu yang dibentuk oleh ratusan warga dengan membawa sebatang kayu sepanjang beberapa meter. Mereka kemudian menyatukan ujung-ujung kayu tersebut ke udara hingga membentuk sebuah formasi kerucut yang kokoh. Suara benturan kayu yang khas dan sorak-sorai peserta menciptakan atmosfer penuh semangat, melambangkan persatuan, keberanian, dan penolakan terhadap segala bentuk bala atau energi negatif di wilayah desa mereka.

Dalam kesimpulan, Galungan di Bali memang memiliki sisi yang unik dan beragam. Berbagai tradisi dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun menjadi bukti kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Bali. Mari kita terus menjelajahi dan menghargai keunikan Galungan di Bali.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.