Fokus Rembang | Pada Jumat, 17 April 2026, Mushola Ihya Uddin di Cileungsi, Kabupaten Bogor, menjadi saksi terselenggaranya acara diskusi yang diberi nama Ngahadean Zaman. Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas Pemuda Muslim Limusnunggal (PML) sebagai ruang dialog reflektif bagi generasi muda dalam menelaah isu‑isu sosial yang semakin kompleks.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Acara dimulai dengan sambutan hangat dari ketua PML, Gilman Fahrudin, yang menekankan urgensi mengatasi krisis identitas serta penurunan nilai spiritual di kalangan pemuda. Menurutnya, tantangan tidak hanya datang dari faktor eksternal seperti laju teknologi yang cepat, melainkan juga dari keresahan internal berupa hilangnya makna hidup. Ia menegaskan bahwa Ngahadean Zaman dirancang untuk menjadi wadah pembelajaran kolektif yang mengintegrasikan perspektif keilmuan, nilai keislaman, dan realitas sosial setempat.

Acara dilanjutkan dengan sesi dialog terbuka yang dipandu oleh beberapa fasilitator muda. Diskusi mengalir dengan santai namun tetap berisi, menyoroti beberapa topik utama:

  • Pengaruh media sosial yang sering menyebarkan konten negatif dan memicu perbandingan diri.
  • Fenomena judi online dan pinjaman daring yang mengancam stabilitas ekonomi keluarga muda.
  • Kebutuhan akan pemahaman agama yang kontekstual, mampu menjawab permasalahan zaman tanpa mengorbankan esensi keimanan.

Setiap poin dibahas dengan melibatkan pengalaman pribadi peserta. Seorang anggota mengungkapkan bahwa ia pernah hampir terjerumus dalam pinjaman online karena tekanan finansial, namun mendapat bantuan nasihat dari rekan‑rekan PML yang menekankan pentingnya perencanaan keuangan berbasis nilai Islam.

Tak lama kemudian, Nafizul Alhafiz Rana, Ketua Yayasan Ihya Uddin sekaligus tuan rumah, memberikan apresiasi tinggi kepada inisiatif PML. Ia menegaskan komitmen yayasan untuk mendukung kegiatan edukatif dan religius yang dapat memperkuat akidah pemuda. “Kegiatan ini sangat positif sebagai sarana pencerahan bagi anak muda, terutama di tengah gempuran pengaruh negatif media sosial, fenomena judi online, hingga pinjaman online yang kian marak,” ujar Nafizul.

Suasana semakin akrab ketika peserta diajak “ngopi berkah” – istilah lokal yang menggambarkan kopi bersama sambil berdiskusi. Momen tersebut menciptakan atmosfer yang kondusif untuk berbagi ide tanpa rasa takut dihakimi. Beberapa peserta menyampaikan harapan agar diskusi seperti ini dijadikan agenda rutin bulanan, sehingga komunitas dapat terus berkembang dan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Di penghujung acara, PML menutup pertemuan dengan jargon khas mereka: “Muda, Beda, Berkarya, Beragama!” Slogan ini menjadi simbol semangat untuk tetap berbeda dalam cara berpikir, berkontribusi melalui karya, dan selalu berpegang pada nilai keagamaan. Gilman menambahkan bahwa keberlanjutan program dialog akan menjadi landasan utama dalam upaya membentengi generasi muda dari bahaya sosial‑ekonomi modern.

Secara keseluruhan, Ngahadean Zaman berhasil menunjukkan bahwa solusi atas keresahan zaman dapat ditemukan melalui kolaborasi aktif dan partisipasi seluruh elemen pemuda. Dengan pendekatan integratif, para pemuda Limusnunggal tidak hanya memperkuat identitas religius, tetapi juga menyiapkan diri menghadapi tantangan global yang terus berubah. Diharapkan, inisiatif serupa akan terus menginspirasi komunitas lain di wilayah Bogor dan sekitarnya untuk menciptakan ruang dialog yang konstruktif.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.