Fokus Rembang | Stadion BJ Habibie di Parepare menjadi saksi drama menegangkan pada Minggu, 19 April 2026 ketika PSM Makassar menuruti tantangan Borneo FC dalam lanjutan pekan ke-28 Super League 2025-2026. Meskipun PSM sempat unggul lewat gol cepat Muhammad Arfan di menit ke-16, tim tamu berhasil membalikkan keadaan dengan dua gol—Juan Villa pada menit ke-31 dan Koldo Obieta pada menit ke-78—menyegel hasil akhir 1-2 untuk kemenangan Borneo FC.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sesudah peluit akhir berbunyi, sorotan tak hanya beralih pada gol penentu, melainkan pada pernyataan asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin. Ia menegaskan bahwa serangkaian cedera menjadi penyebab utama keroposnya lini belakang, terutama setelah Dusan Lagator harus keluar lapangan karena cedera. “Memang hasil akhir tidak sesuai harapan, kami kalah di kandang. Saya bukan beralasan, tetapi bisa dilihat bagaimana perubahan permainan terjadi setelah Dusan keluar,” ungkap Amiruddin dengan nada serius.

Menurutnya, kepergian Dusan Lagator bukan sekadar kehilangan satu pemain, melainkan memicu domino effect pada struktur pertahanan. Tanpa kehadiran pemain tengah berpengalaman tersebut, PSM harus mengandalkan pemain pengganti yang belum sepenuhnya siap secara fisik maupun taktis. Selain Dusan, beberapa pemain penting lainnya juga berada di luar kompetisi karena kondisi kesehatan yang belum pulih.

  • Neto—penyerang yang biasanya menjadi opsi alternatif di lini depan, namun masih merasakan gejala cedera otot.
  • Victor Dethan—gelandang bertahan yang baru kembali dari pemulihan, namun belum kembali pada performa optimal.
  • Mufli Hidayat—bek tengah yang masih menjalani rehabilitasi lutut pasca cedera ligamen.

Situasi ini memaksa pelatih kepala PSM, Ronny Kurniawan, untuk melakukan penyesuaian taktik secara mendadak. Formasi yang semula direncanakan 4-2-3-1 berubah menjadi 4-3-2-1 di menit-menit akhir pertandingan, dengan harapan menutup ruang di antara lini tengah dan belakang. Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk menahan serangan tajam Borneo FC yang mengandalkan kecepatan sayap dan penyerangan lewat tengah.

Analisis taktik selanjutnya menyoroti peran Juan Villa, yang memanfaatkan celah pada pertahanan PSM setelah Dusan ditarik keluar. Villa berhasil menembus zona pertahanan dan mengirimkan bola ke jaring lawan pada menit ke-31, membuka kepercayaan diri Borneo FC. Koldo Obieta, yang dikenal dengan kemampuan penyelesaian akhir, menambah satu gol lagi pada menit ke-78 setelah memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri.

Di luar lapangan, manajemen PSM Makassar kini dihadapkan pada tantangan dua arah: mempercepat proses rehabilitasi pemain yang cedera dan mencari solusi transfer jangka pendek untuk menutup kekosongan di posisi kunci. Ahmad Amiruddin menegaskan bahwa tim medis klub sedang melakukan evaluasi intensif, dan ada harapan beberapa pemain dapat kembali berlatih dalam dua minggu ke depan.

Penggemar PSM yang hadir di stadion pun mengungkapkan kekecewaan mereka, namun tetap memberikan dukungan moral kepada tim. “Kami tetap percaya pada tim, tapi kami butuh kepastian bahwa para pemain akan kembali fit,” ujar salah satu suporter yang menyaksikan pertandingan secara langsung.

Dengan tiga poin yang tertinggal di klasemen, PSM Makassar harus segera bangkit untuk mengembalikan posisi mereka di puncak liga. Pertandingan selanjutnya melawan Persib Bandung akan menjadi ujian penting, terutama bila kondisi Dusan masih belum pulih sepenuhnya. Bagi Ahmad Amiruddin, transparansi mengenai kondisi pemain menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik dan menstabilkan moral tim.

Kesimpulannya, kerugian PSM pada laga melawan Borneo FC bukan semata-mata karena taktik yang kurang tepat, melainkan dipicu oleh badai cedera yang menimpa beberapa pemain inti, termasuk Dusan Lagator. Perbaikan dalam penanganan cedera dan manajemen skuad akan menjadi fokus utama menjelang pertemuan berikutnya.