Fokus Rembang | Generasi milenial di berbagai negara semakin kehilangan harapan untuk memiliki rumah sendiri. Bahkan, banyak di antara mereka yang kini mengaku sudah tidak lagi bermimpi membeli properti karena harga yang terus melonjak dan tidak sebanding dengan pendapatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain itu, sebuah survei terbaru dari Bankrate Home Affordability Survey menunjukkan bahwa krisis keterjangkauan rumah semakin memburuk, terutama di Amerika Serikat. Sebagai gambaran, sekitar 16% calon pembeli rumah pada periode 2020 hingga 2025 mengaku akhirnya menyerah karena tidak menemukan rumah yang mampu mereka beli.

Analis keuangan Bankrate, Stephen Kates, menyebut kondisi tersebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. "Keterjangkauan rumah di AS berada di level terburuk dalam beberapa dekade. Di samping itu, kombinasi harga rumah yang tinggi, pasokan yang terbatas, dan suku bunga KPR yang tinggi membuat banyak calon pembeli akhirnya menyerah," ujarnya.

Milenial menjadi generasi paling terdampak. Dengan demikian, sebanyak 22% milenial mengaku sudah tidak lagi berusaha membeli rumah. Sementara itu, generasi lain juga ikut terdampak, meskipun dalam persentase yang lebih rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa krisis perumahan tidak hanya menyerang generasi muda, tetapi juga lintas usia. Kondisi di Indonesia dinilai tidak kalah berat. Harga properti terus naik lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan masyarakat.

Akibatnya, banyak warga sulit menjangkau rumah layak huni, terutama di kota-kota besar. Di sisi lain, salah satu indikatornya adalah tingginya rasio harga rumah terhadap pendapatan rata-rata. Berdasarkan laporan lain, The Economist menyebut sebagian besar negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau berada di Asia, termasuk Indonesia.

Beberapa negara dengan tingkat keterjangkauan rumah terendah antara lain Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, Korea Selatan, Indonesia, China, Amerika Serikat, dan Inggris Raya.

Sebagai penutup, krisis perumahan global kini menjadi masalah serius, terutama bagi generasi muda. Pada akhirnya, kenaikan harga yang jauh lebih cepat dibanding pendapatan membuat kepemilikan rumah semakin sulit dicapai, bahkan di negara maju sekalipun. Oleh karena itu, Indonesia pun masuk dalam daftar negara dengan tingkat keterjangkauan rumah yang rendah di dunia.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.