Fokus Rembang | Banyak orang memilih jahe, kunyit, dan madu untuk membantu meredakan gejala demam atau pireksia. Namun, ahli menegaskan herbal bukan obat yang dapat mengatasi penyebab pireksia secara langsung.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penggunaan bahan herbal untuk membantu meredakan keluhan saat mengalami kondisi ini masih menjadi pilihan banyak masyarakat. Selain mudah diperoleh, sejumlah bahan alami dipercaya dapat meningkatkan kenyamanan tubuh selama proses pemulihan.

Febris atau pireksia sendiri merupakan respons alami tubuh ketika melawan infeksi maupun peradangan. Pada sebagian besar kasus, kondisi ini dapat membaik dengan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menangani penyebab utama yang mendasarinya.

Beberapa jenis herbal diketahui dapat membantu mengurangi gejala yang sering menyertai demam. Salah satunya adalah jahe. Rimpang ini mengandung senyawa aktif gingerol dan shogaol yang memiliki sifat antiinflamasi. Karena itu, jahe kerap dimanfaatkan untuk membantu meredakan menggigil, nyeri otot, mual, hingga sakit kepala ringan yang muncul saat seseorang mengalami pireksia.

Selain jahe, kunyit juga menjadi bahan herbal yang cukup populer digunakan. Kandungan kurkumin dalam kunyit dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang membantu tubuh merespons peradangan. Minuman hangat berbahan kunyit sering dikonsumsi untuk mendukung proses pemulihan.

Madu juga sering dimanfaatkan ketika demam disertai infeksi saluran pernapasan. Bahan alami ini diketahui dapat membantu meredakan batuk serta mengurangi iritasi pada tenggorokan. Meski begitu, madu bukanlah obat penurun demam. Penggunaannya lebih ditujukan untuk membantu mengurangi keluhan yang menyertai penyakit.

Para ahli turut mengingatkan bahwa madu tidak dianjurkan untuk bayi berusia di bawah satu tahun karena berisiko menyebabkan botulisme.

Penuhi Cairan Tubuh Saat Demam

Sementara itu, konsumsi teh herbal hangat, seperti teh jahe, chamomile, maupun lemon, dapat membantu menjaga kecukupan cairan tubuh selama demam. Hidrasi yang baik sangat penting karena peningkatan suhu tubuh dapat memicu kehilangan cairan lebih banyak melalui keringat.

Di sisi lain, sejumlah herbal yang kerap diklaim efektif mengatasi demam, seperti echinacea, elderberry, dan ginseng, masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Bukti ilmiah yang tersedia saat ini belum cukup kuat untuk memastikan manfaatnya dalam mengatasi demam secara langsung.

Tenaga kesehatan menekankan bahwa langkah paling efektif saat mengalami demam adalah beristirahat yang cukup, menjaga asupan cairan, dan memantau perkembangan kondisi tubuh. Jika suhu tubuh mencapai 39 derajat Celsius atau lebih, berlangsung lebih dari tiga hari, atau disertai gejala serius seperti sesak napas, kejang, maupun penurunan kesadaran, penderita disarankan segera mendapatkan pertolongan medis.

Dengan demikian, herbal dapat digunakan sebagai pendamping untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kenyamanan selama masa sakit. Namun, penggunaannya tidak boleh menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis, terutama apabila demam disebabkan oleh kondisi yang membutuhkan penanganan khusus.

Hal ini menunjukkan bahwa peran herbal dalam mengatasi demam masih terbatas dan perlu diintegrasikan dengan penanganan medis yang tepat. Oleh karena itu, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter ahli sebelum menggunakan herbal sebagai pengobatan.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.