Fokus Rembang | Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ancaman ini kembali menimbulkan kekhawatiran pasar tentang risiko perang yang dapat mengganggu pasokan energi global. Minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$ 92,38 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,25% ke level US$ 89,30 per barel. Kenaikan harga ini terjadi setelah Trump menuding Iran terlalu lambat mencapai kesepakatan dengan Washington. Trump menyatakan bahwa Iran harus “membayar harga” karena gagal memanfaatkan peluang negosiasi yang menurutnya menguntungkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perkembangan ini langsung mengubah fokus pasar dari upaya diplomasi menuju risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Pelaku pasar kini mencermati langkah lanjutan Washington dan dampaknya terhadap pasokan minyak global. Analis UBS Giovanni Staunovo menyatakan bahwa harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran sebelumnya sempat menekan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Namun, ketidakpastian mengenai langkah Trump berikutnya membuat pasar kembali waspada.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah militer AS menyerang sejumlah target di Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter serang Apache milik AS. Di sisi lain, Teheran memperingatkan akan melanjutkan aksi militer jika Israel terus menyerang kelompok Hizbullah di Lebanon. Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyatakan bahwa eskalasi terbaru tersebut kembali menambahkan premi risiko geopolitik ke pasar minyak.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun selama delapan pekan berturut-turut pada pekan lalu. Stok bensin juga tercatat menyusut, menandakan permintaan energi masih cukup kuat. Namun, kenaikan harga masih tertahan oleh melemahnya impor minyak China serta mulai meningkatnya lalu lintas kapal di kawasan Teluk Persia.

Iran hingga kini masih membatasi sebagian besar lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut, sementara AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Di tengah ketidakpastian tersebut, analis JPMorgan memperkirakan harga minyak Brent akan bertahan di kisaran rata-rata US$100 per barel untuk sebagian besar sisa tahun 2026, seiring tingginya risiko geopolitik dan ketatnya pasokan global.

Mengingat risiko geopolitik yang meningkat, pasar minyak global sekarang harus siap menghadapi tantangan baru. Kenaikan harga minyak yang terjadi pada perdagangan Rabu (10/6/2026) adalah bukti bahwa pasar minyak global sangat sensitif terhadap perubahan politik dan militer di Timur Tengah.

Oleh karena itu, penting bagi para pelaku pasar dan investor untuk terus memantau perkembangan terkini dan beradaptasi dengan perubahan pasar minyak global. Dengan demikian, mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dan menghindari risiko kehilangan dalam pasar yang sangat dinamis.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.