Fokus Rembang | Surakarta, 19 April 2026 – Di sebuah asrama sederhana yang dikelola oleh Sekolah Rakyat 17 Surakarta, seorang remaja bernama Aditya menatap masa depan dengan keyakinan. Ia bukan sekadar siswa biasa; ia adalah anak asuh seorang nenek berusia 73 tahun, Mbah Aina, yang selama 17 tahun terakhir mengorbankan segala tenaga demi pendidikan sang anak yatim piatu.
Sejak pertama kali menerima amanah mengasuh Aditya yang masih balita, Mbah Aina tidak pernah mengeluh. Pada awalnya, orang tua biologis anak itu masih memberikan uang saku bulanan, namun seiring waktu mereka tidak lagi muncul. Tanggung jawab penuh atas hidup dan pendidikan Aditya pun beralih ke pundak sang nenek. Dengan pekerjaan serabutan—mengumpulkan bunga kamboja di pemakaman, menjual barang bekas, hingga membantu tetangga—pendapatan Mbah Aina tidak menentu, tetapi ia tetap bertekad memastikan anak asuhnya dapat menyelesaikan pendidikan sampai tingkat menengah pertama.
Ketika Aditya melangkah ke bangku SMP, tantangan keuangan semakin berat. Mbah Aina khawatir anaknya terpaksa berhenti sekolah dan masuk dunia kerja sejak usia muda. Namun harapan muncul saat ia mengetahui adanya program pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah, khususnya melalui Sekolah Rakyat 17 Surakarta. Program tersebut, yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, menyediakan tempat belajar, asrama, makan, serta pakaian tanpa biaya bagi siswa yang kurang mampu.
Setelah meyakinkan Aditya, Mbah Aina mendaftarkan anaknya ke Sekolah Rakyat Surakarta. Proses pendaftaran yang sederhana dan dukungan penuh staf sekolah membuat keputusan itu terasa tepat. Kini Aditya tinggal di asrama sekolah, dimana ia menerima tiga kali makan sehari, pakaian seragam, serta fasilitas belajar yang memadai. Beban finansial Mbah Aina berkurang drastis, memungkinkan ia fokus pada pekerjaan kecil yang menghasilkan sedikit pendapatan tambahan.
Prestasi Aditya tidak berhenti pada keberhasilan akademik. Sejak SMP, ia pernah meraih juara pencak silat tingkat daerah, serta menjadi videografer terbaik dalam lomba sekolah. Kemampuan tersebut menjadi nilai plus ketika ia melanjutkan ke SMA di Sekolah Rakyat 17 Surakarta. Di sana, ia terus mengasah bakatnya, sekaligus menyiapkan diri untuk mengejar cita‑cita utama: menjadi seorang tentara profesional.
Motivasi Aditya untuk bergabung dengan TNI berakar dari rasa ingin melindungi orang‑tua asuhnya serta memberikan kontribusi bagi bangsa. Ia mengaku terinspirasi oleh nilai‑nilai disiplin, keberanian, dan rasa kebangsaan yang selalu ditekankan di lingkungan sekolah. “Setiap kali mendengar cerita pahlawan, hati saya berdegup kencang. Saya ingin menjadi bagian dari mereka yang menjaga keamanan negara,” ujar Aditya dalam sebuah wawancara singkat di asrama.
Keberhasilan Aditya tidak lepas dari peran guru dan pelatih di Sekolah Rakyat Surakarta. Mereka tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menanamkan nilai‑nilai moral dan kebangsaan. Selain itu, sekolah menyediakan program ekstrakurikuler seperti bela diri, kepemimpinan, dan keterampilan teknologi, yang semuanya membantu siswa mengembangkan potensi secara holistik.
Di sisi lain, kisah Mbah Aina menjadi contoh nyata kegigihan seorang perempuan tua dalam mengatasi keterbatasan ekonomi demi masa depan generasi berikutnya. Meski harus mengumpulkan bunga kamboja di pemakaman demi mendapatkan uang tambahan, ia tak pernah menyerah. “Anak itu ibarat anak sendiri. Saya tidak mau melihatnya terpaksa bekerja sebelum waktunya,” katanya sambil tersenyum menyaksikan Aditya berlatih silat di lapangan sekolah.
Sekolah Rakyat 17 Surakarta, yang didirikan pada tahun 2024, kini menampung lebih dari 800 siswa dari berbagai latar belakang ekonomi. Kebijakan pendidikan gratis yang diusungnya menjadi solusi konkret bagi banyak keluarga kurang mampu di wilayah Jawa Tengah. Dengan dukungan pemerintah daerah, sponsor swasta, serta partisipasi aktif masyarakat, sekolah ini terus memperluas jangkauan layanan, termasuk beasiswa tambahan bagi siswa berprestasi.
Pengalaman Aditya dan Mbah Aina menunjukkan bagaimana kebijakan pendidikan yang inklusif dapat mengubah nasib individu, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi keamanan nasional. Jika lebih banyak institusi meniru model Sekolah Rakyat Surakarta, harapan bagi anak‑anak yatim piatu dan keluarga miskin di Indonesia akan semakin besar.
Ke depan, Aditya berencana mengikuti seleksi masuk Akademi Militer setelah lulus SMA. Sementara itu, Mbah Aina berharap dapat terus mendukung pendidikan anak‑anak lain yang membutuhkan, serta menyebarkan semangat gotong‑royong di lingkungan sekitar.
Kesimpulannya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan individu yang penuh dedikasi seperti Mbah Aina dapat membuka pintu kesempatan bagi generasi muda untuk menggapai impian, termasuk menjadi prajurit yang siap mengabdi bagi bangsa.


