Fokus Rembang| Universitas Muria Kudus (UMK) meluncurkan kuliah perdana program Magister Manajemen pada Jumat, 17 April 2026, dengan menghadirkan Kepala Desa Purwasaba, Banjarnegara, Welas Yuni Nugroho—yang akrab dipanggil Hoho Alkaf. Acara berlangsung di Ruang Seminar Lantai 4 Gedung Rektorat UMK, menandai langkah strategis institusi dalam mengaitkan teori manajemen dengan tantangan nyata di tingkat desa.
Dalam sambutan pembukaan, Rektor UMK menekankan pentingnya sinergi antara akademisi dan praktisi lapangan. Ia menjelaskan bahwa program Magister Manajemen dirancang tidak hanya untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang bisnis, tetapi juga untuk menyiapkan pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan di lingkungan pemerintahan lokal. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami konsep-konsep klasik, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks pembangunan desa,” ujar rektor.
Hoho Alkaf, yang dikenal sebagai tokoh inovatif di desa Purwasaba, menyampaikan presentasi berjudul “Transformasi Kepemimpinan Desa dalam Meningkatkan Kesejahteraan melalui Pengelolaan Sumber Daya yang Efektif.” Dalam presentasinya, ia menyoroti tiga pilar utama: transparansi anggaran desa, pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal, dan pemanfaatan teknologi informasi untuk mempercepat layanan publik. Hoho mencontohkan keberhasilan program koperasi desa yang berhasil meningkatkan pendapatan warga sebesar 35 persen dalam dua tahun terakhir.
Mahasiswa Magister Manajemen yang hadir aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Salah satu mahasiswa menanyakan bagaimana cara mengintegrasikan pendekatan manajemen risiko ke dalam perencanaan pembangunan desa. Hoho menjawab bahwa langkah pertama adalah melakukan pemetaan risiko secara menyeluruh, melibatkan seluruh elemen masyarakat, dan menyusun rencana mitigasi yang realistis. “Manajemen risiko bukan hanya soal menghindari kegagalan, melainkan menciptakan peluang baru bagi desa,” ujarnya.
Acara ini juga menjadi ajang pertukaran pengetahuan antara dosen-dosen UMK dan praktisi desa. Dosen Fakultas Ekonomi menyoroti pentingnya penelitian berbasis lapangan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik desa. Mereka mengusulkan kolaborasi jangka panjang berupa proyek riset bersama, magang mahasiswa di kantor desa, serta workshop keterampilan manajerial bagi perangkat desa.
Selain diskusi teoritis, peserta juga diberikan kesempatan mengamati secara langsung proses pengelolaan anggaran desa melalui simulasi komputer. Simulasi ini dirancang untuk melatih kemampuan analisis data, pengambilan keputusan, dan evaluasi hasil kebijakan. Menurut Koordinator Program Magister Manajemen, metode pembelajaran ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.
Keberhasilan kuliah perdana ini mendapat apresiasi luas dari masyarakat Purwasaba. Warga yang hadir menyatakan rasa bangga melihat desa mereka menjadi contoh inovasi kepemimpinan. “Kita merasa didengar, dan langkah-langkah yang diambil Hoho serta dukungan UMK memberi harapan baru bagi generasi muda kami,” ujar seorang warga senior.
Dengan latar belakang perubahan kebijakan pemerintah yang menekankan desentralisasi dan otonomi daerah, program Magister Manajemen UMK diharapkan menjadi katalisator perubahan positif di tingkat desa. Keterlibatan tokoh seperti Hoho Alkaf memperkuat relevansi kurikulum, sekaligus membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian aksi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, UMK berencana memperluas jaringan kerjasama dengan lebih banyak desa di Jawa Tengah, mengintegrasikan modul e‑learning, serta mengadakan konferensi tahunan yang mengangkat tema kepemimpinan desa berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi pusat unggulan dalam pendidikan manajemen yang responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah.
Secara keseluruhan, kuliah perdana Magister Manajemen ini tidak hanya menandai dimulainya semester akademik baru, tetapi juga menegaskan komitmen UMK dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan praktik pemerintahan lokal. Diharapkan, lulusan program ini akan menjadi agen perubahan yang mampu mengoptimalkan sumber daya desa, meningkatkan kesejahteraan warga, dan memperkuat tata kelola yang akuntabel.


