Fokus Rembang | Industri karoseri lokal di Indonesia tengah menghadapi kesulitan besar akibat maraknya truk impor asal China yang masuk dalam kondisi utuh atau Completely Built Up (CBU). Kondisi ini menyebabkan industri lokal kehilangan kesempatan kerja karena truk-truk tersebut datang dengan bak atau dump yang sudah terpasang.
Penurunan order dan keluhan pelaku industri karoseri lokal menjadi fenomena yang terus terjadi. Kehadiran truk impor China telah menggerus pasar mining sebesar 10 hingga 30 persen dibanding tahun lalu. Hal ini secara langsung mematikan orderan pembuatan bak truk di industri karoseri lokal yang sebelumnya bisa mencapai 30 hingga 50 unit per bulan, kini merosot drastis menjadi hanya 1 hingga 2 unit saja.
Terkait kondisi ini, pihaknya bersama Askarindo telah berkali-kali menyuarakan aspirasi tersebut kepada pemerintah dalam berbagai pertemuan kementerian. Mereka berharap adanya keadilan dalam regulasi industri otomotif nasional.
Syarifuddin menyoroti ketidakadilan regulasi yang membebani industri lokal dibandingkan dengan truk impor. Industri dalam negeri diwajibkan mematuhi aturan ketat seperti standar emisi Euro4 serta aturan Over Dimension Over Loading (ODOL). Sebaliknya, ia menilai truk impor China seolah bebas dari aturan tersebut, termasuk dalam hal standar emisi yang masih menggunakan Euro2 atau Euro3. Selain itu, aspek dimensi truk impor tersebut dinilai tidak mengikuti standar regulasi yang diwajibkan bagi produsen lokal, sehingga menciptakan persaingan yang tidak seimbang.
Industri karoseri lokal terus menerus menghadapi tantangan akibat serbuan truk impor China. Mereka berharap pemerintah dapat mengambil tindakan efektif untuk mengatasi masalah ini dan memastikan kelestarian industri lokal.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

