Fokus Rembang | Industri makanan dan minuman merupakan salah satu pilar utama penggerak ekonomi nasional. Sektor ini terus mencatatkan pertumbuhan positif di tengah dinamika pasar global yang menantang. Pada tahun 2025, industri makanan dan minuman berhasil mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 6,38 persen. Pencapaian ini menunjukkan resiliensi sektor manufaktur di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah capaian level pra-pandemi. Pada masa tersebut, industri makanan dan minuman nasional sempat menembus angka pertumbuhan di kisaran 7 hingga 9 persen. Faktor penghambat daya saing industri adalah pelemahan nilai tukar rupiah, yang menjadi faktor utama yang menekan performa industri. Ketergantungan pada impor bahan baku serta kemasan membuat biaya produksi membengkak.

Perbandingan laju inflasi pada April 2026 menunjukkan bahwa inflasi sektor makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,06%, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum nasional sebesar 2,42%. Kondisi ini menuntut efisiensi yang lebih ketat dari sisi pelaku industri. Kementerian Perindustrian bersama para pemangku kepentingan terus merumuskan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan sektor manufaktur agar tetap kompetitif.

Beberapa upaya yang sedang didorong untuk memperkuat daya saing meliputi pengembangan sumber bahan baku domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, peningkatan hilirisasi industri guna memberikan nilai tambah pada produk lokal, dan pemberian insentif investasi bagi perusahaan yang memperkuat struktur industri dalam negeri. Pelaku usaha diharapkan mampu beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis, dengan melakukan diversifikasi pemasok, meningkatkan efisiensi proses produksi, memperkuat riset dan pengembangan untuk substitusi bahan baku impor, dan mengoptimalkan penggunaan komponen lokal dalam proses pengemasan produk.

Tingginya inflasi pada sektor makanan dan minuman secara tidak langsung berpengaruh pada daya beli masyarakat. Ketika biaya produksi meningkat, harga jual di tingkat konsumen cenderung ikut terkerek naik. Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga melalui berbagai kebijakan fiskal dan moneter. Harapannya, industri makanan dan minuman dapat segera kembali ke level pertumbuhan optimal seperti masa pra-pandemi.

Industri makanan dan minuman tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional meskipun dibayangi tekanan inflasi dan nilai tukar. Sinergi antara pemerintah dan pelaku industri sangat krusial untuk memperkuat kemandirian bahan baku domestik. Dengan hilirisasi dan efisiensi yang tepat, sektor ini diharapkan mampu menghadapi tantangan global sepanjang tahun 2026.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.