Fokus Rembang | Tegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak karena buntunya negosiasi damai. Imbasnya, Iran kembali berencana untuk menutup total Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Otoritas militer Iran bahkan mengancam akan menargetkan setiap kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut. Pernyataan itu disampaikan Komando Khatam al-Anbiya sebagai respons atas memanasnya konflik dengan AS.
Keputusan tersebut berpotensi memicu gangguan besar terhadap perdagangan global. Sebelumnya, Iran mengklaim telah menyerang dua kapal yang disebut mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk penegakan aturan yang berlaku di wilayah perairan mereka.
Militer Iran juga memperingatkan seluruh kapal yang berada di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman untuk tidak mendekati Selat Hormuz maupun meninggalkan area labuh. Mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk kerja sama dengan musuh, menurut otoritas militer Iran.
Langkah Teheran ini terjadi sehari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di selatan Iran pada Rabu, 10 Juni 2026. Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz akan tetap berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan tersebut bergantung pada perkembangan situasi keamanan serta penghentian tindakan yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Amerika Serikat.
Penutupan Selat Hormuz akan memiliki dampak besar pada perdagangan global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia. Penutupan jalur ini akan memicu gangguan besar terhadap perdagangan global.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.
