Fokus Rembang | Halo Semarang, perlu kita ketahui bahwa penyakit lupus adalah kondisi autoimun yang memicu sistem kekebalan tubuh untuk menyerang jaringan tubuh sendiri. Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Bantar Suntoko, SpPD-KR FINASIM, gejala lupus dapat berupa nyeri sendi, demam berkepanjangan, sering merasa cepat lelah, ruam pada kulit, kurang darah (anemia), dan kebocoran ginjal.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pada acara memperingati Hari Lupus Sedunia yang diadakan oleh Komunitas Panggon Kupu di Semarang, Anggota Komisi E DPRD Jateng, HM Dipa Yustia Pasa, mengajak para penyintas lupus untuk aktif bersuara di media sosial agar lebih mendapat perhatian dari pemerintah. Ia mengatakan bahwa pihaknya mendukung dan mengapresiasi penyelenggaraan acara tersebut.

Winti Windrati, psikolog yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan bahwa orang yang hidup dengan lupus menghadapi berbagai tantangan, bukan hanya tentang menghadapi penyakitnya, tetapi juga perjuangan emosional, mental, dan sosial. Ia menekankan bahwa penyakit bukan identitas diri dan seseorang tetap berharga, dicintai, dan memiliki makna hidup meskipun sedang sakit.

Untuk itu, HM Dipa Yustia Pasa mengajak para penyintas lupus untuk menulis dan menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi para penyintas Lupus. Ia juga mengungkapkan kesediaannya untuk memfasilitasi audiensi Panggon Kupu dengan pemerintah dan rumah sakit mitra Komisi E DPRD Jawa Tengah.

Perlu kita ketahui bahwa lupus adalah penyakit yang memerlukan perawatan yang tepat dan dukungan dari keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendukung dan mengapresiasi upaya-upaya yang dilakukan oleh para penyintas lupus agar mereka dapat hidup dengan lebih baik.

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.