Fokus Rembang | Ibadah haji merupakan impian besar bagi setiap Muslim di Indonesia, termasuk bagi mereka yang berpenghasilan sederhana. Sosok Painah, seorang penjual daun pisang asal Wonosobo, menjadi inspirasi nyata pada musim haji 2026.
Painah telah melakoni pekerjaan sebagai penjual daun pisang selama lebih dari 35 tahun. Setiap hari, ia mulai beraktivitas sejak pukul 01.30 dini hari untuk mengantarkan dagangannya ke berbagai tempat. Ia harus berjalan kaki menempuh lima desa demi memenuhi pesanan pelanggan seperti pedagang pecel dan katering.
Kerja keras ini membuahkan hasil berupa tabungan haji yang ia kumpulkan selama 18 tahun terakhir. Dengan menyisihkan sekitar Rp200.000 per bulan, ia akhirnya mampu mewujudkan niat suci ke Tanah Suci.
Perjalanan menabung Mbah Painah dapat dibagi menjadi beberapa aspek penting. Pertama, durasi menabung yang mencapai 18 tahun merupakan prestasi yang luar biasa untuk seorang penjual daun pisang. Kedua, pekerjaan utamanya sebagai penjual daun pisang merupakan sumber utama tabungan haji. Ketiga, nominal tabungan yang sekitar Rp200.000 per bulan merupakan jumlah yang tidak sedikit bagi seorang penjual daun pisang.
Lokasi asal Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi tempat kelahiran dari mimpi haji Mbah Painah. Berkat ketekunan dan doa yang tulus, ia mampu menyelesaikan rangkaian ibadah seperti tawaf dan sa’i dengan berjalan kaki tanpa merasa lelah.
Beberapa tips yang dapat diambil dari pengalaman Mbah Painah adalah sebagai berikut. Pertama, biasakan bergerak aktif dengan melakukan aktivitas fisik harian secara konsisten. Kedua, jaga pola makan dengan pastikan nutrisi tercukupi agar tubuh tetap bugar selama proses ibadah. Ketiga, fokus pada niat dengan keikhlasan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Keempat, perhatikan syarat istitha’ah atau kemampuan kesehatan sesuai aturan terbaru.
Saat tiba di depan Ka’bah pada musim haji 2026, Mbah Painah tidak memanjatkan doa untuk kekayaan duniawi. Ia justru memohon kesehatan dan kebahagiaan bagi anak serta cucunya. Bagi Mbah Painah, definisi ‘kaya’ yang sesungguhnya adalah memiliki kesehatan yang prima. Setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah, ia berencana kembali ke rutinitas lamanya sebagai penjual daun pisang.
Kisah Mbah Painah mengajarkan kita bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai panggilan Tuhan. Dengan ketekunan dan doa yang tulus, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menunaikan ibadah haji.
Mbah Painah telah menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan doa yang tulus, setiap orang dapat mencapai mimpi haji. Ia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidaklah menjadi halangan untuk mencapai panggilan Tuhan.
Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI Gemini/ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor untuk kenyamanan pembaca.

