Fokus Rembang | Puluhan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kebumen menumpuk antusiasme pada Sabtu, 18 April 2026, saat mengikuti rangkaian pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kebumen. Kegiatan yang diberi nama “PWI Goes to Campus” ini melibatkan sekitar enam puluh peserta dan diisi oleh dua narasumber senior PWI, yakni Hafid dan Tomy Fajar Pratama.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pembukaan sesi pertama dipandu oleh Hafid, yang memperkenalkan konsep dasar jurnalistik secara komprehensif. Ia menekankan bahwa jurnalistik bukan sekadar menuliskan berita, melainkan proses mengumpulkan, menulis, dan menyebarkan informasi faktual serta relevan kepada publik melalui media cetak, elektronik, maupun digital. Hafid menambahkan bahwa peran jurnalistik mencakup fungsi kontrol sosial dan pengawasan kekuasaan, menjadikannya pilar penting dalam demokrasi.

Selama materi, Hafid menguraikan beragam tipe berita, mulai dari hard news yang bersifat mendesak dan faktual, hingga soft news dan feature yang lebih mendalam serta bersifat emosional. Ia menekankan empat prinsip utama penulisan berita: faktual, objektif, kredibel, dan menarik. Untuk memperkuat kemampuan praktis, Hafid memberikan contoh penggunaan rumus 5W+1H (what, who, when, where, why, how) sebagai kerangka dasar dalam menyusun berita yang utuh.

  • What: Apa yang terjadi?
  • Who: Siapa yang terlibat?
  • When: Kapan peristiwa terjadi?
  • Where: Di mana lokasi kejadian?
  • Why: Mengapa peristiwa penting?
  • How: Bagaimana proses atau cara terjadinya?

Selain teknik penulisan, peserta juga dilatih cara melakukan wawancara yang efektif. Hafid menekankan pentingnya persiapan matang, kemampuan menggali informasi secara mendalam, serta etika saat berinteraksi dengan narasumber. Ia memperingatkan agar wartawan selalu menghormati privasi dan tidak memanipulasi jawaban narasumber.

Sesi kedua dipimpin oleh Tomy Fajar Pratama, yang membahas peran serta kompetensi seorang news anchor. Menurut Tomy, news anchor adalah wajah utama program berita yang harus mampu menyampaikan informasi secara jelas, objektif, dan menarik. Ia menyoroti empat kompetensi utama: komunikasi verbal yang baik, artikulasi yang jelas, kepercayaan diri, serta wawasan luas tentang isu-isu terkini.

Tomy juga memperkenalkan teknik‑teknik penting dalam penyampaian berita, seperti phrasing yang tepat, intonasi yang variatif, serta penguasaan suara meliputi volume, tone, dan ekspresi. Ia menekankan bahwa kredibilitas, netralitas, dan profesionalitas harus tetap terjaga, terutama saat siaran langsung yang sering kali menuntut keputusan cepat di bawah tekanan.

Pelatihan ini tidak hanya bersifat teoritis. Setelah sesi materi selesai, peserta diberi kesempatan melakukan simulasi penulisan berita singkat serta latihan on‑air sebagai news anchor. Hasilnya, sejumlah mahasiswa berhasil menghasilkan laporan yang memuat semua elemen 5W+1H serta menampilkan kemampuan vokal yang stabil dan ekspresif.

Para peserta menyatakan kepuasan yang tinggi atas pengalaman belajar ini. Salah satu mahasiswa, Rina Sari, mengaku, “Saya dulu hanya menulis untuk tugas kuliah, kini saya mengerti bagaimana menyajikan berita yang dapat dipercaya dan menarik perhatian penonton.” Sementara Budi Hartono menambahkan, “Latihan anchoring memberi saya rasa percaya diri untuk berbicara di depan kamera, sesuatu yang belum pernah saya coba sebelumnya.”

Dengan dukungan PWI Kebumen, program “PWI Goes to Campus” diharapkan menjadi wadah berkelanjutan bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan jurnalistik dan broadcasting. PWI berencana memperluas cakupan pelatihan ke fakultas lain serta menambah narasumber profesional dari media nasional, sehingga sinergi antara dunia akademik dan industri media semakin kuat.

Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang seluk‑beluk dunia jurnalistik, sekaligus melatih keterampilan komunikasi yang diperlukan untuk menyampaikan informasi secara profesional dan bertanggung jawab. Diharapkan, lulusan yang telah mengikuti program ini dapat menjadi agen perubahan yang mampu menegakkan nilai‑nilai kebenaran dan integritas dalam lanskap media Indonesia.